Terbaru
Langsung ke konten utama

Selain Kompleks Makam Raja-Raja Tallo, Ada Banyak Wisata Sejarah di Kecamatan Tallo

Trending


 

Di Seputar Kita News -- Makassar -- Di Tallo, tak cuma ada Kompleks Makam Raja-Raja Tallo, tapi juga jejak sejarah lainnya. Di kecamatan dengan luas wilayah 5,83 kilometer persegi ini, terdapat pula bekas-bekas benteng dan makam Raja Bone. Luas Kecamatan Tallo sekira 3,32 persen dari total luas wilayah Kota Makassar yang mencapai 175,8 kilometer persegi. Jumlah penduduknya pada tahun 2024 tercatat sebanyak 127.648 jiwa.


Saya diajak Ferdhiyadi ke Tallo, Minggu, 12 Mei 2024. Ferdhi merupakan pengajar sejarah dan pegiat kebudayaan. Rasa-rasanya lama baru saya kembali ke sini. Terakhir saya ke Pantai Mangarabombang, biasa disingkat Marbo, beberapa tahun lalu, kapan tepatnya, saya lupa hehehe.


Ferdhi mengajak saya untuk melakukan pemetaan rencana kegiatan "Pertunjukan Seni Budaya Muara Sungai, Laut dan Tallo Bersejarah". Ketika meninjau lokasi, dia tengah dalam proses mengajukan Proposal Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan 2024 Balai Pelestarian Wilayah XIX. Alhamdulillah, propasalnya kemudian disetujui. Dia lolos sebagai salah satu penerima Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan 2024 angkatan ke-2.


***


Begitu memasuki wilayah Tallo, terdapat pintu gerbang dengan tulisan Selamat Datang di Kampung Bersejarah Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo. Meski ada beberapa hurufnya copot, tapi terbaca maksud tulisannya. Di pucuk pilar pintu gerbang sebelah kiri, terdapat tiang bendera, sementara di kanan ada logo Kota Makassar.


Ketika lewat di pintu gerbang itu, saya tidak menyadari kalau ada jejak peninggalan Raja Tallo VI, I Malingkaan Daeng Mannyonri Karaeng Katangka. Jejak itu ada di dalam bangunan sederhana, tepat di sisi kiri pintu gerbang. Di dalamnya ada semacam kuburan yang di atasnya ditaburi kembang warna-warni. Terdapat pula beberapa batang lilin warna merah yang masih menyala, pertanda ada prosesi saat kunjungan peziarah di tempat itu.


Pada papan informasi yang dibuat seadanya oleh Dinas Kebudayaan Kota Makassar, yang berada di situ, jejak sejarah itu merupakan Timungang Lompoa ri Tallo. Ini merupakan bekas pintu gerbang Istana Kerajaan Tallo, pada sekira Abad XVI. 


Tertulis bahwa di sinilah jejak dan peninggalan Raja Tallo VI, I Malingkaan Daeng Mannyonri Karaeng Katangka, saat berjumpa dan berjabat tangan dengan sosok lelaki bersorban hijau dan berjubah putih. Usai berjabat tangan, telapak tangan Sang Raja bertuliskan aksara yang ia tidak tahu artinya. Belakanga diketahui bahwa tulisan itu merupakan kalimat Syahadat. 


Raja Tallo bergegas menemui Datuk ri Bandang, yang tengah berlabuh di Pantai Tallo. Beliau memperlihatkan tulisan di telapak tangannya tersebut. Itulah awal mula Raja Tallo VI memeluk agama Islam. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 9 Jumadil Awal 1014 Hijriyah atau 22 September 1605 Masehi. Momen ini juga dicatat sebagai munculnya kata "Akkasaraki" (Makkasaraki). 


Di Kerajaan Gowa-Tallo, I Malingkaan Daeng Mannyonri Karaeng Katangka, merupakan orang pertama yang memeluk agama Islam. Beliau kemudian bergelar Karaeng Matoaya Sultan Abdullah Awwalul Islam. Tahulah saya, nama Jalan Sultan Abdullah yang disematkan di ruas jalan itu diambil dari nama Raja Tallo VI.


Melewati pintu gerbang, saya lalu ke Jalan Sultan Abdullah II, untuk menuju ke Pantai Marbo. Di sini, saya bertemu dengan Ferdhi bersama istri dan anaknya. Kami sempat ngobrol sebentar, membincangkan kegiatan yang bisa dilakukan di sini. 


Lokasi ini merupakan wilayah binaan teman-teman Ruang Abstrak Literasi. Terdapat ikon bertuliskan PANTAI MARBO dengan latar perahu-perahu nelayan dan lautan luas. Di ruang publik ini, ada pula tempat duduk dari beton, yang dibuat dengan bentuk-bentuk tertentu. Ferdhi dan teman-teman kerap menggelar lapak baca bagi anak-anak nelayan agar mereka punya akses pada buku-buku bacaan. Saya sempat hadir dalam salah satu kegiatan lapak buku.


Kami lalu berboncengan menapaki jalan beton sempit yang membelah kampung di situ. Motor kami berjalan pelan karena banyak anak-anak bermain sepeda. Ada pula yang bermain sepeda listrik. 


Ferdhi menunjuk ke suatu gundukan tanah yang tertutup belukar dan bongkaran rumah. Sambil menyetir Honda Scoopy, saya menoleh ke arah yang dimaksud. Benar. Terlihat ada bekas-bekas susunan bata, yang oleh Ferdhi disebut benteng. 


Di tempat berikutnya juga kami melihat bekas-bekas benteng yang memprihatinkan. Bentuknya hanya berupa susunan bata setinggi lebih satu meter. Bata-bata itu berlumut, dan nyaris akan menyatu dengan tanah.


Kami meneruskan perjalanan menuju bekas lokasi benteng berikutnya. Setelah motor di parkir di dekat pos ronda, saya bertanya pada seorang lelaki paruh baya di situ, tentang bangunan kecil berbentuk rumah. Namun, dia mengaku tidak tahu. Alasannya, dia baru datang dari Nunukan. 


Di dalam rumah kecil beratap seng, dengan tiang dicat biru dan tembok semen itu terdapat kuburan. Ujung atap rumahnya mengikuti rumah tradisional Makassar, yang bersilang. Rumah itu diapit 2 tiang bendera, yang tampaknya sudah lama tidak diganti. Bendera Merah Putih yang berkibar, sore itu, terlihat kusam dan koyak pada ujungnya.


Ferdhi mengajak saya melihat-lihat bekas lokasi benteng tersebut. Menurut, informasi yang dia peroleh, tempat itu dikenal dengan nama Pa'banderang oleh masyarakat setempat. Namun, itu merupakan Petilasan Bastion Maccini Sombala.


Saya berjalan mengikuti bentuk lingkaran benteng itu dan iseng-iseng menghitung ketebalan dindingnya. Masya Allah, terdapat 12 bata disusun berlapis. Saya membayangkan, betapa kokohnya benteng itu di masanya.


Benteng Tallo yang kami kunjungi ini, berdasarkan "A Tale of Two Kingdoms: The Historical Archaeology of Gowa and Tallok, South Sulawesi, Indonesia (Bulbeck, 1992), dilengkapi dengan dua pintu utama, yang terletak di bagian timur dan selatan. Terdapat 9 bastion, 5 di antaranya masing-masing diberi nama, yakni Bastion Maccini Sombala, Bastion Balang Cidi, Bastion Mangarabombang, Bastion Gampangcaya, dan Bastion Bayoa.


Setelah menelusuri jejak Benteng Tallo, kami balik arah, menuju Kompleks Makam Raja Bone. Di salah satu sisi pintu gerbang, ada simbol songkok To Bone, biasa disebut pula songkok recca atau songkok guru. 


Ferdhi mengajak saya melihat-lihat dua makam yang letaknya terpisah. Makam itu masing-masing merupakan makam La Tenripale To Akkeppeang Arung Timurung (Raja Bone XII), dan makam La Tenri Tappu To Appaliweng Daeng Palallo Arung Palakka (Raja Bone XXIII).


La Tenripale To Akkeppeang Arung Timurung, memerintah tahun 1616-1631. La Tenripale wafat di Tallo, tahun 1631, dan mendapat gelar anumerta Matinroe ri Tallo. Ia kemudian digantikan oleh keponakannya, La Maddaremmeng Opunna Pakokoe Arung Timurung, sebagai Raja Bone XIII.


La Tenri Tappu To Appaliweng Daeng Palallo Arung Palakka, Sultan Ahmad Saleh Syamsuddin, memerintah sebagai Raja Bone XXIII, sejak tahun 1775 hingga 1812. La Tenri Tappu wafat di Rompegading pada tahun 1812, dan mendapat gelar anumerta Matinroe ri Rompegading. Beliau kemudian digantikan anaknya La Mappasessu To Appatunru Arung Palakka sebagai Raja Bone XXIV.


Semasa hidupnya, La Tenri Tappu salah satu tokoh penting aristokrat Bugis, yang turut menggerakkan tradisi penulisan, selain dikenal pula sebagai penganut Tarikat Khalwatiah. Salah satu karyanya yang terkenal Nurul al-Hadi atau dalam bahasa Bugis disebut Tajang Paatiroang. Beliau merupakan pengagum ajaran-ajaran Syekh Yusuf Taj Al-Khalwatiah.


Sebelumnya, La Tenripale Sultan Adam, Raja Bone XII, telah mendalami tasawuf Islam. Bahkan beliau dikenal sebagai penganjur Islam dan ajaran tasawuf pada masyarakat Makassar dan Bantaeng. Beliau memperdalam ilmu agama langsung dari ulama Melayu, yakni Datuk Ditiro dan Datuk Ribandang. Beliau berkali-kali mengunjungi Gowa untuk urusan memperdalam agama Islam, yang kala itu pengajiannya berpusat di Kalukubodoa.


Tulisan Muhlis Hadrawi dan Ramlah Hakim berjudul "Peranan Ulama dan Aristokrat dalam Tradisi Tulis dan Produksi Teks Akkalabineang dan Teks Khalwatiah di Sulawesi Selatan" (Jurnal Al-Qalam, Volume 22 Nomor 1 Juni 2016) membantu saya memahami, mengapa makam kedua Raja Bone itu berada di Tallo.


Selama ini, gambaran tentang makam kalangan bangsawan di wilayah utara Kota Makassar --di benak saya-- hanya terkait dengan Kompleks Makam Raja-Raja Tallo. Luas areal makam pada bagian dalam pagar, yakni 7.535,7 meter persegi. Di komplek makam ini, terdapat 96 makam, terdiri dari 5 makam berukuran besar, 55 makam berukuran sedang, dan 36 makam berukuran kecil.


Makam-makam di sini mewakili bentuk-bentuk makam pada Abad XVII hingga Abad XVIII. Berdasarkan bentuknya, makam di sini memiliki beberapa tipe, antara lain tipe Kubang (susun-timbun). Yakni, tipe makam yang terbuat dari susunan balok batu berbentuk persegi, berundak 3 dan 4.


Sore itu, saya bertemu Aco, lelaki kelahiran 1974, yang mengaku membantu bapaknya membersihkan kompleks makam. Bapaknya, Daeng Samadong, juga biasa membaca doa kalau ada yang datang untuk ziarah kubur. Makam yang paling sering diziarahi, kata Aco, adalah makam Sultan Mudafar (Imanginyarrang Daeng Makkio), yang merupakan Raja Tallo VII, memerintah pada tahun 1598-1640.


Dalam Komplek Makam Raja-Raja Tallo ini terdapat dua baruga, yang tampak tidak terawat baik. Anak-anak dan remaja memanfaatkan halamannya yang luas untuk tempat bermain layang-layang. 


Sebelum meninggalkan kompleks makam, saya menuju papan informasi yang mencantumkan nama-nama raja dan kerabatnya yang dimakamkan di sini. Nama-nama itu juga bisa ditelusuri di platform digital.


Namun bukan itu yang membuat saya tergelitik. Pikiran saya terus terbawa pada sisa-sisa Benteng Tallo yang kini hanya tinggal nama. Saya khawatir, jangan sampai sejarah di sini telah terkubur oleh waktu, dan kemudian terlupakan secara mengenaskan. Semoga tidak. (Red)

Baca Juga Artikel Menarik Lainnya Disini:
Loading Memuat artikel...

Komentar

BERITA POPULER SEPUTAR KITA NEWS

Prihatin Daud Tappi’ Tidur di Kolong Jembatan Garonggong, Bupati Zadrak Tawarkan Tempat Tinggal dan Pekerjaan

  ‎ ‎SEPUTAR KITA NEWS --- MAKALE – Kisah Daud Tappi’, warga yang selama ini menginap di kolong Jembatan Sungai Garonggong, kawasan Pasar Makale, Kabupaten Tana Toraja, mendapat perhatian pemerintah daerah. Bupati Tana Toraja, dr. Zadrak Tombeg, menawarkan solusi agar Daud dapat tinggal di tempat yang lebih layak sekaligus memperoleh penghasilan melalui pekerjaan sebagai petugas kebersihan pasar. ‎ ‎Selama berada di Makale, Daud diketahui berjualan tempe pada siang hari di kawasan pasar. Namun, untuk beristirahat pada malam hari, ia terpaksa menempati kolong jembatan di sekitar Sungai Garonggong. ‎ ‎Kondisi tersebut mendapat perhatian setelah keberadaan Daud diketahui oleh pihak terkait. Saat dikonfirmasi 13 Oktober 2026, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Tana Toraja, Eli Bernad, mengatakan bahwa Daud mengalami tekanan psikologis setelah berpisah dengan istrinya. ‎ ‎Meski demikian, kondisi pribadi Daud perlu disikapi dengan empati dan tidak dijadikan alasan un...

Tragedi di Sesean Suloara: Diduga Alami Gangguan Jiwa, Adik Tikam Kakak Kandung Hingga Tewas Saat Perbaiki Pipa Air

  ‎SEPUTAR KITA NEWS --- TORAJA UTARA – Peristiwa tragis menggemparkan warga Dusun To'yasa Riu, Lembang (Desa) Suloara, Kecamatan Sesean Suloara, Kabupaten Toraja Utara pada Senin (12/10/2026) pagi. Seorang pria berinisial TT (45) tega menganiaya kakak kandungnya sendiri, Aris Tangke (49), menggunakan senjata tajam hingga tewas di tempat. ‎ ‎Terduga pelaku yang merupakan adik kandung korban diketahui memiliki riwayat gangguan kejiwaan. ‎ ‎‎Peristiwa berdarah ini bermula sekitar pukul 08.30 WITA. Saat itu, korban, terduga pelaku, dan seorang saksi berinisial YLA (71) sedang bergotong-royong menggali tanah di area sawah untuk memperbaiki pipa air yang rusak. ‎ ‎Ketika sedang bekerja, saksi tiba-tiba melihat korban dan pelaku terlibat perkelahian sengit dalam posisi saling merangkul. Tak lama kemudian, pelaku TT berhasil melepaskan diri dari dekapan korban dan langsung melarikan diri dari lokasi kejadian. ‎ ‎Saksi yang curiga kemudian mendekat dan terkejut mendapati korban sudah dalam...

Aksi Nyata Bamagnas Toraja Utara: Salurkan Bantuan Holistik untuk Warga Kurang Mampu di Gandangbatu Sillanan

‎Seputar Kita News --- TANA TORAJA – Suasana penuh kehangatan dan kekeluargaan menyelimuti Gereja Toraja Jemaat Sion Batubai, Gandangbatu Sillanan, Tana Toraja, pada Sabtu (10/10/2026). Kehadiran pengurus Badan Musyawarah Antar Gereja Nasional (Bamagnas) Kabupaten Toraja Utara tidak hanya untuk beribadah bersama, tetapi juga membawa misi kemanusiaan yang menyentuh hati. ‎ ‎ Dipimpin langsung oleh ketuanya, Dr. Ester Ryan Mega Mandalawati, jajaran Bamagnas Toraja Utara membagikan bantuan holistik kepada para lansia dan warga kurang mampu di sela-sela ibadah pengucapan syukur jemaat setempat. Bantuan holistik ini dirancang untuk menyentuh berbagai aspek kebutuhan dasar warga secara menyeluruh, baik secara material maupun dukungan moral. ‎Dalam kesempatannya, Ketua Bamagnas Toraja Utara, Dr. Ester Ryan Mega Mandalawati, menyampaikan bahwa kehadiran mereka di tengah-tengah jemaat merupakan perwujudan nyata dari kasih yang bergerak dan berdampak langsung bagi sesama. ‎ ‎ ‎"Kehad...

Zadrak-Erianto Rangkul Media, Sinergi Pembangunan dan UMKM Toraja Jadi Sorotan

  SEPUTAR KITA NEWS -- MAKALE – Bupati Tana Toraja dr. Zadrak Tombeg bersama Wakil Bupati Erianto L. Paundanan mengajak insan pers memperkuat sinergi dalam mendukung pembangunan daerah. Kolaborasi antara pemerintah, media, dan masyarakat dinilai penting untuk mewujudkan Tana Toraja yang maju, berdaya saing, mandiri, serta tetap berpegang pada nilai-nilai budaya. Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan silaturahmi bersama awak media yang berlangsung di Taman PKK, Makale, Senin (12/10/2026). Pertemuan yang berlangsung dalam suasana kekeluargaan itu diprakarsai Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Kabupaten Tana Toraja, dengan Kepala Dinas Berthy Mangontan sebagai mediator. Dalam pertemuan tersebut, Zadrak menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak dapat berjalan maksimal jika hanya mengandalkan pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, termasuk media, untuk bersama-sama mengawal jalannya pembangunan. Menurutnya, meskipun silaturahmi bersama awak med...

Gerebek Kos-kosan, Polres Tana Toraja Blokir Celah Peredaran Narkoba

‎SEPUTAR KITA NEWS --- TANA TORAJA – Polres Tana Toraja bergerak cepat melindungi warga dari ancaman narkotika. Melalui Satuan Reserse Narkoba yang bekerja sama dengan Unit Reaksi Cepat (URC)  ‎ ‎Satreskrim dan personel Sat Samapta, kepolisian menggelar patroli dan razia besar-besaran di berbagai lokasi rawan pada Kamis malam (15/10/2026). ‎Langkah tegas ini diambil sebagai bentuk deteksi dini untuk mempersempit ruang gerak para pelaku kejahatan narkotika di wilayah Kabupaten Tana Toraja. ‎ ‎Razia yang dipimpin langsung oleh Kasat Res Narkoba Polres Tana Toraja, IPTU Arlinansius A.L., memprioritaskan pemeriksaan di sejumlah kamar kos dan area tersembunyi yang kerap dicurigai menjadi tempat transaksi atau penyalahgunaan barang haram tersebut. ‎ Dalam aksi ini, petugas memeriksa: ‎ • Identitas diri dan badan para penghuni maupun pengunjung di lokasi. ‎ • Barang bawaan yang mencurigakan. ‎ • Kendaraan dan fasilitas di sekitar area kos-kosan. ‎ Tidak hanya memeriksa fisik, polisi juga ...

Fasilitas Baru, Semangat Baru: Bupati Toraja Utara Resmikan Gedung UPT Puskesmas Pasang

SEPUTAR KITA NEWS --- TORAJA UTARA – Kabar gembira bagi masyarakat Kecamatan Dende' Piongan Napo. Layanan kesehatan di wilayah ini dipastikan akan semakin prima. Bupati Toraja Utara, Frederik Victor Palimbong, meresmikan gedung baru UPT Puskesmas Pasang pada Rabu (14/10/2026). Mengusung tema “Melayani dengan Hati, Sehat untuk Semua” , peresmian ini menjadi simbol komitmen pemerintah daerah dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih layak, ramah, dan merata. Acara peresmian ditandai dengan pemotongan pita secara simbolis dan penandatanganan prasasti oleh Bupati. Tidak hanya gedung baru, Puskesmas Pasang juga menerima satu unit mobil ambulans baru untuk mempercepat respons layanan darurat bagi warga sekitar. Pelayanan Kesehatan Harus Humanis: "Sambut dengan Senyuman" Dalam sambutannya, Bupati Frederik Victor Palimbong mengingatkan bahwa kemegahan gedung baru harus diimbangi dengan kualitas pelayanan yang tulus. Menurutnya, kesembuhan pasien sering kali dimulai dari...

Perangi Narkoba, Kafe Malam di Toraja Utara Dirazia Petugas Gabungan

  SEPUTAR KITA NEWS --- TORAJA UTARA – Guna memutus rantai peredaran narkotika, petugas gabungan dari Polres Toraja Utara dan Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Tana Toraja menggelar razia besar-besaran di sejumlah Tempat Hiburan Malam (THM) pada Jumat (09/10/2026) malam. Operasi yang dimulai pukul 22.30 WITA ini dipimpin langsung oleh Kabag Ops Polres Toraja Utara, Kompol Gerianto Pabuang, S.H., didampingi Kasat Resnarkoba AKP Muhammad Arif, S.H., dan Kasat Reskrim Iptu Ruxon, S.H. Sebanyak 16 personel gabungan diterjunkan untuk menyisir titik-titik rawan peredaran barang haram tersebut. Fokus operasi malam itu menyasar dua hiburan malam terkemuka di wilayah Toraja Utara, yakni Cafe ANS dan Cafe Pacific. Petugas memeriksa ketat identitas diri, barang bawaan, hingga gerak-gerik para pengunjung maupun pekerja kafe. Tidak hanya memeriksa barang bawaan, petugas juga langsung menggelar tes urine di tempat secara acak bagi mereka yang perilakunya mencurigakan. Langkah ini diambil sebagai d...

Diikuti 972 Wisudawan, Polres Toraja Utara Sukses Amankan Kegiatan Wisuda UKI Toraja

​Seputar Kita News --- Toraja ---- Polres Toraja Utara turun tangan mengamankan acara wisuda Universitas Kristen Indonesia (UKI) Toraja. Pengamanan ini dipimpin langsung oleh Kapolres Toraja Utara untuk memastikan seluruh rangkaian acara berjalan aman. ​Acara wisuda Sarjana (S1) dan Magister (S2) ini digelar di Kampus 2 UKI Toraja, Sabtu (03/10/2026). Lokasi tepatnya berada di Jalan Poros Rantepao - Palopo, Kelurahan Tallunglipu Matallo, Kecamatan Tallunglipu, Kabupaten Toraja Utara. ​Sebanyak total 55 personel Polres Toraja Utara dikerahkan dan disebar di berbagai tempat strategis. Petugas menjaga lokasi acara hingga jalur jalan yang dilewati oleh para wisudawan dan tamu undangan. ​Polisi juga menyediakan 12 pos siaga di beberapa titik rawan. Selain itu, ada Tim Pengurai Kemacetan dan Tim Patroli Mobile yang siap bergerak cepat di lapangan. ​Acara wisuda di Auditorium Kampus 2 UKI Toraja ini diikuti oleh 972 wisudawan dari berbagai jurusan. Banyaknya jumlah peserta dan tamu membuat pe...

Reses di Toraja, Agustina Mangande Tampung Aspirasi Pengrajin Manik-Manik dan Kelompok Tani

SEPUTAR KITA NEWS --- TORAJA – Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, Agustina Mangande, menyerap berbagai aspirasi masyarakat dalam rangkaian kegiatan reses di sejumlah titik di Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara. Aspirasi yang disampaikan warga mencakup kebutuhan pengembangan usaha kerajinan manik-manik hingga dukungan sarana produksi pertanian. Kegiatan reses ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan secara langsung persoalan yang mereka hadapi sekaligus mengusulkan program yang dinilai dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga. Salah satu pertemuan berlangsung pada Kamis (15/10/2026), di Tongkonan Pongleon Tua, Lembang Angin-Angin, Kecamatan Kesu’, Kabupaten Toraja Utara. Dalam pertemuan tersebut, warga menyampaikan bahwa pengrajin manik-manik membutuhkan dukungan pemasaran, bahan baku, dan modal usaha. Sementara itu, kelompok tani mengusulkan pengadaan traktor, bibit, dan pupuk untuk mendukung kegiatan pertanian. Bagi para pengrajin manik-manik, tantangan ti...

Krisis BBM Merembet di Toraja: Setelah Solar Langka dan Truk Mengular, Kini Pertalite Eceran Tembus Rp15 Ribu

  ‎ ‎Seputar Kita News -- Toraja – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di wilayah Toraja Raya kian meluas dan memukul berbagai sektor. Tidak hanya para sopir truk dan angkutan umum yang kelimpungan akibat pangkas pasokan Solar subsidi hingga 50 persen, pengendara roda dua pun kini menjerit. Fenomena kelangkaan ini dimanfaatkan oleh sejumlah pengecer nakal yang nekat menaikkan harga Pertalite hingga tembus Rp15.000 per botol demi meraup keuntungan sepihak. ‎ ‎Di beberapa SPBU di Tana Toraja dan Toraja Utara, pemandangan antrean panjang kendaraan roda empat dan truk pembawa logistik yang mengular hingga ke badan jalan sudah menjadi makanan sehari-hari. Pengurangan suplai Solar membuat para sopir terpaksa mengantre berjam-jam, bahkan bermalam di SPBU. Di sisi lain, menipisnya stok Pertalite di SPBU resmi memaksa masyarakat beralih ke pedagang eceran botolan meski harganya mencekik kantong. ‎ ‎Sisi Edukasi: Aturan Hukum bagi Pengecer dan Pelaku Penimbunan ‎ Membeli BBM dari SPB...