Diseputar Kita News -- Makassar -- Menulis puisi bagi Rusdin Tompo, penulis dan pegiat literasi, bukan sekadar terpaku pada keindahan kata-kata atau larik-lariknya. Namun, terpenting adalah makna dan pesan yang akan disampaikan. Pencipta puisi "Panggil Aku Daeng" itu menyampaikan, memang terkadang pada masa awal, seseorang lebih menekankan pada estetika larik-larik puisinya. Itu bagian dari proses belajar, di mana si penulis mengekplorasi keindahan bahasanya. Nanti, lanjutnya, ada semacam panggilan menulis puisi sebagai sikap kritis, kepedulian dan keberpihakan. Puisi jadi medium ekspresi untuk membela orang-orang yang terpinggirkan, mereka yang termarginalkan, dan wujud rasa kemanusiaan penulisnya. "Menulis puisi itu bukan cuma soal rasa bahasa yang indah, tapi kedalaman maknanya," jelas Rusdin Tompo, yang mengaku mulai menulis puisi sejak duduk di bangku Sekolah Dasar itu. Dia lalu mengutip tulisan Sofyan RH Zaid, dalam "Kaidah Puisi & Akidah Kepenyair...