Pengaturan rutin Satlantas Polres Toraja Utara jadi "ritual" pagi yang bikin warga Rantepao lebih tenang beraktivitas
SEPUTAR KITA NEWS --- RANTEPAO - Fajar baru naik di atas perbukitan Toraja. Jalan Poros Rantepao mulai ramai oleh motor ke pasar, mobil antar jemput sekolah, dan truk sayur dari Sa'dan. Di tengah keramaian itu, seragam cokelat khas Satlantas sudah lebih dulu berdiri di persimpangan.
Itu bukan kejadian satu kali. Setiap pagi, tanpa kecuali, pemandangan yang sama terulang di titik-titik rawan macet Kabupaten Toraja Utara.
Sejak pukul 06.30 WITA, personel Satlantas Polres Toraja Utara sudah bergerak. Mereka menempati simpang Pasar Bolu, depan sekolah, hingga jalur masuk Kota Rantepao. Tugasnya sederhana tapi vital: memastikan arus kendaraan mengalir, bukan menumpuk.
Petugas tidak hanya berdiri dan memberi aba-aba. Mereka memantau, mengurai antrean, dan menegur pengendara yang mencoba melawan arus atau parkir sembarangan. Di jam-jam sibuk, satu menit kelengahan bisa berarti rantai kemacetan sepanjang 500 meter.
"Kegiatan gatur lalin rutin setiap pagi ini merupakan bagian dari komitmen kami dalam memberikan pelayanan prima kepada masyarakat," kata Kasat Lantas Polres Toraja Utara, AKP Muhammad Nasrum Sujana, saat dikonfirmasi Selasa, 8 September 2026.
Menurutnya, kehadiran polisi di jalan adalah upaya nyata mencegah dua hal yang paling dikhawatirkan warga: kemacetan dan kecelakaan.
Di sela mengatur arus, para petugas juga menyempatkan diri menegur. Bukan dengan bentakan, tapi dengan imbauan. Helm dipakai dengan benar. Kecepatan dikurangi saat dekat sekolah. Sabuk pengaman jangan dilepas.
Pesan-pesan itu diulang setiap hari, karena keselamatan bukan soal hafalan, tapi kebiasaan.
Upaya Satlantas tidak berhenti di jalan. Mereka juga rutin turun ke sekolah-sekolah untuk penyuluhan. Di platform media sosial Polres, konten edukasi soal tertib berlalu lintas juga terus diunggah.
Tujuannya satu: menanamkan kesadaran sebelum pelanggaran terjadi.
Dampaknya mulai terasa. Ibu-ibu yang antar anak ke sekolah mengaku tidak lagi terjebak 20 menit di simpang. Pedagang pasar bilang barang dagangan bisa lebih cepat sampai. Pengendara ojek online juga merasa lebih aman karena arus lebih tertib.
Apresiasi itu datang langsung dari masyarakat. Kehadiran polisi pagi-pagi dianggap membantu, bukan mengganggu.
Toraja Utara punya tantangan sendiri. Jalan sempit, banyak tanjakan, dan volume kendaraan terus naik. Tanpa pengaturan, satu mobil mogok saja bisa melumpuhkan satu ruas jalan. Karena itu, kehadiran petugas di titik strategis jadi penentu.
AKP Nasrum menyebut kegiatan ini bukan seremoni. Ini pencegahan. Dengan mengatur sejak awal, potensi kecelakaan akibat serobotan dan saling kejar di jam sibuk bisa ditekan. Dengan melancarkan arus, warga juga tidak buru-buru dan emosional di jalan.
Dengan pengaturan rutin yang terus dilakukan, Satlantas menargetkan satu hal: budaya tertib. Bukan karena ada polisi, tapi karena sadar.
"Harapannya tercipta suasana lalu lintas yang lebih tertib dan aman bagi seluruh pengguna jalan di Kabupaten Toraja Utara," tambah AKP Nasrum.
Saat matahari sudah tinggi dan petugas mulai bergeser, Jalanan Rantepao tetap bergerak. Tidak ada klakson panjang, tidak ada adu argumen di perempatan.
Mungkin itu hal kecil. Tapi di pagi hari, ketenangan di jalan adalah awal dari hari yang baik bagi ribuan warga Toraja. Dan itu dimulai dari peluit dan rompi hijau stabilo yang sudah standby sejak pukul 06.30 WITA. (M.khanif)
Baca Juga Artikel Menarik Lainnya Disini:


Komentar
Posting Komentar